Sebuah tim peneliti dari Universitas Negeri Manado (UNIMA) berhasil mengungkap potensi besar madu dari lebah raksasa endemik Sulawesi, Apis dorsata binghami, sebagai sumber pangan fungsional dan kesehatan. Penelitian ini memberikan wawasan baru mengenai karakteristik fisikokimia dan kandungan bioaktif madu hutan yang selama ini belum banyak diteliti secara mendalam.
Tim yang terdiri Prof. Dr. Mokosuli Yermia Semuel, S.Si., M.Si., Prof. Dr. Herry Sumampouw, M.Pd., dr. Anita Tengker, M.Kes. dari Jurusan Biologi, serta dr. Alva Supit, Ph.D dari Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat UNIMA, melakukan studi komprehensif terhadap madu yang diambil dari empat lokasi hutan alam di Sulawesi Utara, yaitu Hutan Gunung Klabat, Hutan Manembo, lereng Gunung Soputan, dan lereng Gunung Ambang.
Kaya Akan Senyawa Bioaktif Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Natural Resources for Human Health (2026), para peneliti menemukan bahwa madu Apis dorsata binghami memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat, dengan kemampuan menangkal radikal bebas mencapai 69,94% hingga 80,27%.
“Karakterisasi ini memberikan data mendasar bahwa madu Apis dorsata binghami memiliki potensi kritis sebagai sumber daya alam untuk kesehatan manusia,” tulis tim peneliti dalam laporannya.
Analisis laboratorium menunjukkan bahwa madu ini kaya akan kandungan fenolik dan flavonoid. Bahkan, melalui pengujian Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) pada sampel yang paling aktif, tim berhasil mengidentifikasi 111 senyawa turunan, termasuk beberapa konstituen baru yang jarang ditemukan pada madu lain.
Indikator Lingkungan Selain manfaat kesehatan, penelitian ini juga menyoroti peran lebah sebagai bioindikator lingkungan. Tim peneliti mendeteksi adanya jejak logam berat seperti Timbal (Pb) dan Merkuri (Hg) dalam sampel madu. Temuan ini mengindikasikan adanya paparan polusi lingkungan di habitat lebah liar tersebut, yang menjadi catatan penting bagi upaya konservasi hutan di Sulawesi Utara.
Metodologi Penelitian Sampel madu dikumpulkan langsung dari koloni liar antara bulan Maret hingga Juni 2024 menggunakan metode panen tradisional yang lestari. Peneliti kemudian melakukan serangkaian uji fisikokimia meliputi kadar air, keasaman (pH), kadar abu, hingga kandungan gula pereduksi sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).
Hasil studi ini diharapkan menjadi landasan ilmiah bagi pengembangan madu Apis dorsata binghami sebagai produk nutrasetikal (pangan medis) bernilai ekonomi tinggi, sekaligus mendorong pelestarian habitat lebah endemik Wallacea yang kian terancam.
Tentang Jurnal: Penelitian lengkap ini telah terbit dengan judul “Physicochemical Characterization of Apis dorsata Binghami Honey from the Wallacean Zone of Indonesia: Insights into an Under-Researched Resource for Human Health” pada jurnal Natural Resources for Human Health, Volume 6, Isu 1, Tahun 2026.